Latihan Perdana Persib Setelah Libur 3 Hari

Copies By Simamaung.com

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hariono, Loyalitas dan Totalitas tanpa batas Untuk PERSIB

foto-persib-bandung-latihan-di-football-plus-HARIONO-SIM_3336

Atep akhirnya melekatkan ban kapten di lengan kiri Hariono setelah ia harus ditarik keluar untuk digantikan Taufiq pada pertandingan selasa lalu menghadapi PBR. Raut wajah Hariono lentuk, tak percaya, dan mungkin terasa menggendong sebuah beban karena diusung menjadi jenderal memimpin rekan-rekannya disisa pertandingan. Namun setelah Atep menunjuk arah bench, yang memberi isyarat bahwa itu instruksi pelatih, Hariono pun tersenyum menyeringai. Di sudut-sudut tribun, setiap orang yang hadir memberikan tepuk tangan meriah untuk momen itu.

Singgah di Bandung bersama gerbongan yang dibawa oleh Jaya Hartono pada 2008 lalu bersama Hilton, Waluyo, dan Airlangga, Hariono adalah satu-satunya yang masih mendapat kepercayaan publik Bandung serta jajaran pelatih sampai sekarang. Bagaimana pun, di Indonesia, kontrak pesepakbola cenderung dihargai per tahun. Hitung-hitungannya, jika pemain bermain sesuai ekspektasi manajemen, tanda tangan akan dibubuhkan untuk musim baru setelah kontrak musim sebelumnya habis. Seperti itu, dan barangkali akan tetap seperti itu. Maka untuk pemain yang masa pengabdiannya lebih dari 5 tahun, rasanya wajar untuk menyebut bahwa pemain itu memiliki sesuatu yang istimewa.

Apa istimewanya Hariono? Sulit untuk mencetak gol, bukan? Lenggak-lenggok pun tak sepenuhnya bisa? Hey, sepakbola tidak melulu menyoal seberapa banyak gol yang bisa dicetak. Bukan menyoal se-“Ballerino” apa pemain dapat menari di atas lapangan. Tentu ada hal lain dari sepakbola yang membuat kepercayaan itu tetap dirawat.

Ia bukan pemain tengah nomor wahid di Indonesia. Namanya mungkin memang akan sulit setara saat disandingkan dengan Ponaryo Astaman atau Firman Utina. Ia kalah mentereng. Namanya bisa jadi akan tenggelam jika dihadapkan pada nama-nama itu. Namun satu hal yang tidak pernah membuat namanya hilang adalah ia sosok pekerja keras. Menjegal pemain tim lawan hingga harus mendapatkan kartu kuning bahkan merah adalah rutinitasnya di lapangan tengah Persib.

Hariono dilahirkan memang bukan sebagai ahli pikir yang mampu memberikan umpan panjang dengan se per sekian detik waktu memilih. Jiwanya seakan lebih terlatih untuk hal-hal yang lebih keras dari sekadar pemikir. Ia dilahirkan menjadi seorang petarung, yang tanpa kehadirannya, mungkin Konate atau Vladimir akan merasa tidak nyaman. Bagaimana tidak, jika saja Konate gagal men-dribble bola, siapa orang pertama yang akan membantu Vladimir dalam urusan memberangus lawan?

Tipikal pemain seperti ini akan jarang didapatkan di Indonesia. Kalaupun ada, ya nggak segahar mas Har. Vitalnya seorang Hariono telah dirasakan Persib bertahun-tahun. Asri Akbar tidak diberinya tempat untuk pos gelandang bertahan. Semusim, Asri Akbar langsung cabut dari Bandung. Bahkan perkenalan Hariono dengan publik Bandung pun dijalaninya dengan menggatikan el-capitano Persib di tahun 2008, Suwita Patha.

Memasuki tahun ke 7 bersama Maung Bandung, tak sebiji gol pun ia cetak di liga resmi. Namun orang-orang tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Hariono adalah pengecualian dari sepakbola yang bertujuan mencetak gol. Bagaimanapun, akan ada sisi humanis dalam sepakbola yang selalu memberi porsi istimewa untuk setiap adegannya. Meski demikian, hasrat untuk mencetak pastilah akan selalu membumbung di kepala Hariono.

Sekuat tenaga ia akan selalu mau memberikan apapun untuk Persib. Satu momen yang akan selalu saya ingat adalah saat Hariono harus dilarikan ke rumah sakit setelah bertabrakan dengan Gustavo Chena ketika Persib bertandang ke Gresik 2012 lalu. Saat itu Hariono tidak mampu lagi untuk melanjutkan pertandingan. Bahkan ia harus dibawa dengan ambulans. Serentak saat ambulans itu mulai bergerak keluar stadion, satu sudut yang diisi ribuan bobotoh bertepuk tangan. Lebih dari itu, bobotoh berdiri seolah ingin memberi hormat bagi pemain yang mempunyai dedikasi kuat untuk Persib itu.

Cerita kemudian mengalir sampai saat dalam sebuah pertandingan, sekumpulan bobotoh naik ke atas bebatuan tribun timur. Mereka yang mengatas namakan Viking Unpas membentangkan sebuah spanduk: “Selamat Berjuang Kembali Di Medan Perang, Hariono!” Ya, itu adalah sambutan kecil yang diberikan bobotoh sekembalinya Hariono setelah patah tulang dada seusai bertabrakan dengan Chena. Fragmen itu seolah memberi isyarat bahwa benar, Hariono adalah pemain yang akan selalu diharapkan keberadaannya di lapangan tengah Persib.

Tahun 2014 barangkali akan menjadi tahun terbaik bagi Hariono. Selain mampu membawa pujaan hati ke singgana terbaik kehidupan di dunia, ia pun sukses membawa piala kembali menyapa Bandung. Satu masa yang telah belasan tahun dinantikan masyarakat Jawa Barat. Dedikasi serta totalitasnya untuk Persib sudah tak perlu dipertanyakan. Dengan tegas ia selalu mengatakan bahwa bermain untuk Persib adalah salah satu pencapaian terbaik dalam hiidupnya dan ia bangga. Begitu juga untuk bobotoh, Hariono adalah salah satu percontohan. Meski belum pernah mencetak gol, Hariono layak mendapat apresiasi. Jika harus memberi khotbah singkat pada pemain lain, kira-kira seperti ini: “Lihat Hariono, begitulah caranya untuk mendapat tepuk tangan.”

Sekali lagi, Hariono bukanlah tentang sepakbola penuh gaya, bukan menyoal skill dan kuantitas mencetak gol. Ini lebih pada bagaimana pemain mau berkerja, memadukan tenaga dengan hati agar lebih kuat dan keras saat berperang. Dalam sepakbola, mencetak gol memang adalah klimaks terbaik dan orgasme paling nikmat.

Dari momen itu kemudian kita bisa melihat setiap ruang dan sudut di stadion akan bergembira, mengepalkan tangan menghantam udara, bertepuk tangan seraya berteriak. Bahkan tak jarang juga kantung mata bocor dan meneteskan air di sela-sela lesung pipi. Gol adalah kerakusan yang harus dipelihara bagi setiap seniman lapangan hijau. Namun rasa-rasanya, renik sepakbola tak harus selalu dengan mencetak gol untuk mendapat standing applause. Beberapa pesepakbola bahkan dianggap pahlawan meski jarang mencetak gol, Hariono salah satunya.

Menjadi bagian pada sebuah kesebelasan dengan bakti yang memasuki tahun ke 7 tentu bukan pengabdian yang sebentar untuk ukuran di liga Indonesia. Apalagi dengan menjalani satu pertandingan ke pertandingan lainnya dengan jarang mendapat sorotan tajam. Ia bukan Alejandro Tobar ataupun Miljan Radovic yang memiliki akurasi umpan-umpan yang nyaris sangat baik. Ia bukan Suchao Nutnum ataupun Konate Makan yang mempunyai determinasi tinggi mengobrak-abrik pertahanan lawan. Ia bukan Sutiono Lamso ataupun Serginho van Dijk yang mampu mencetak 21 gol dalam semusim.

Hariono hanyalah Hariono, yang akan selalu mendapat tempat khusus di sela-sela hati bobotoh karena dedikasinya yang kuat bagi tim. Bobotoh tentu lebih paham dalam menilai makna loyalitas dan totalitas itu seperti apa. Bobotoh tentu lebih tahu siapa-siapa saja pemain yang layak mendapat tepuk tangan seraya diingat secara istimewa sepanjang masa.

Penulis adalah penonton bola amatiran. Berakun twitter @kiipeeng

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Ujicoba Persib VS PSGC

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Video Ujicoba Persib VS Persires Kuningan

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Video Nicolas Vigneri dan Persiapan TC Persib ke Ciamis

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Video Ujicoba Persib vs Persibat

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Zulvin Kembaran Zulham Ungkap Batalnya Zulham Bergabung Ke Persib

zulhamzamrun

zulham-zamrun-selebrasi

PADANG,TRIBUN – Kembaran Zulham Zamrun, Zulvin Zamrun mengakui batalnya Zulham bergabung di Persib Bandung musim depan, karena Manajemen Persib tidak menginginkan Zulham sepaket bersama adiknya bergabung di Persib.
Awalnya, ia masih mengikuti latihan bersama Mitra Kukar saat Zulham santer diberitakan hampir deal bersama Persib.
“Saya tanya sama dia mau main dimana. Dan setelah obrolan panjang, ya akhirnya saya diajak juga bermain di Persib,” kata Zulvin ditemui di Hotel Ibis Padang, Selasa (6/1).
Karena Zulvin diluar kebutuhan tim, maka keduanya batal bergabung di Persib. “Kalau Zulham saja main di Persib pasti sudah deal. Mungkinkarena sepaket, akhirnya enggak jadi,” ujar dia.
Namun toh, keduanya musim depan tidak akan bermain di tim yang sama setelah Zulham memastikan diri membela Persipura dan Zulvin memperkuat Pusamania Borneo FC. (men)

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | Meninggalkan komentar